BERANDA BERITA BUKU DIALOG ESAI FOTO FILM GAME GURU HAYAT
  KARYA SISWA TOKOH TIPS WISATA BUKU TAMU  
 
Masjid Kudus, Simbol Toleransi Sejati
25-12-2009
 

Oleh Deni Adam Malik

Memasuki makam yang satu ini, peziarah akan melihat sebuah bangunan megah mirip candi yang tersusun dari bata merah. Bangunan bergaya Hindu itu bukanlah candi, melainkan masjid. Bagian atasnya seperti terpenggal lalu diberi atap bersusun dengan kubah masjid bergaya India. Di sekitarnya, ada peninggalan lain yang merupakan ciri khas kerajaan besar di Jawa (Majapahit) pada masa lalu, yakni dua gapura kembar. Gerbang masuk tanpa pintu ini terletak di ujung timur bagian luar kompleks masjid. Ada juga pagar tembok yang mengelilingi kompleks dan sebuah gapura lagi untuk memasuki makam.

Masjid Sunan Kudus–orang lebih mengenalnya dengan dengan sebutan Menara Kudus–dibangun pada sekitar pertengahan abad ke-16, sekitar 956 Hijriah atau 1549 Masehi dengan nama Masjid Al-Aqsa. Tempat itu dinamakan sama dengan salah satu masjid di Palestina karena sang pedndirinya yang tak lain adalah Ja’far Sodik atau Sunan Kudus pernah membwa kenangan batu bata merah dari Baitul Maqdis. Kompleks ini merupakan bukti nyata kehadiran utusan siar Islam di Jawa Tengah bagian utara yang masuk melalui pendekatan budaya. Buktinya, dalam masjid itu dibangun delapan pancuran untuk wudu dengan arca di atasnya. Sebuah sumber menyebutkan, cara itu dilakukan untuk mengadaptasi keyakinan Buddha akan “delapan jalan kebenaran” atau asta sanghika marga.

Sebagai bukti toleransi lainnya, Sunan Kudus melarang para pengikutnya menyembelih sapi. Dan hingga kini warga Kudus masih menghargai nilai-nilai yang ditanamkan sang panutan. Sebagai gantinya, mereka mengkonsumsi daging kerbau. Hal itu dikarenakan sapi merupakan hewan yang dianggap suci bagi agama Hindu. Menurut sebuah laman yang ditulis Bambang Setia Budi, bangunan menara Kudus mempunyai ketinggian 18 meter, berukuran sekitar 100 m persegi pada bagian dasar. Seluruh bangunan menggambarkan budaya khas Jawa-Hindu.

Kaki dan badan menara dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen, namun konon dengan digosok-gosok hingga lengket serta secara khusus adanya selasar yang biasa disebut pradaksinapatta pada kaki menara yang sering ditemukan pada bangunan candi. Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat soko guru yang menopang dua tumpuk atap tajuk. Sedangkan di bagian puncak atap tajuk terdapat semacam mustoko (kepala) seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada elemen arsitektur Jawa-Hindu.

Ketika Islam masuk ke Nusantara, menurut Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, memang dengan bijak para penyebar Islam menghargai tradisi leluhur yang dijumpai sambil memperkenalkan ajaran Al Quran. Sehingga, antara agama dan budaya setempat saling menopang dan saling mengisi. “Agama tak berkembang tanpa wadah budaya dan budaya akan hilang arah dan ruh tanpa bimbingan agama,” kata Komaruddin. Keunikan bentuk masjid ini memang sulit dilupakan. Pasalnya, bentuk ini tak ada yang menyamai di seluruh dunia. Bentuk arsitekturalnya khas dan mempesona.

Deni Adam Malik, Staf Analisis Media pada Biro Informasi dan Persidangan Kemenko Kesra.

 
Komentar 1
 

 
Peristiwa Kecil dan Nasionalisme
17-01-2010

 

Buku ini menghimpun potongan-potongan peristiwa kecil yang menarik dan remeh-temeh, persinggungan pribumi dengan teknologi-teknologi baru yang mengakibatkan perubahan sosial ketika kolonialisme tengah berlangsung pada tahun 1800-an dan 1900an  >>>

Berpikir Historis Ala Wineburg
08-01-2010

BUKU ini mengajak kita untuk berpikir kritis terhadap sejarah dan memberikan inspirasi untuk melakukan inovasi dalam pembelajaran sejarah. >>>

Menelusuri Jejak Leluhur Timor
26-12-2009

Buku ini menjadi referensi yang cukup penting karena sumber cetak tentang sejarah Timor masih sangat langka.

Batu, Seragam, dan Kekuasaan
22-12-2009

Tema-tema sketsa masa Demokrasi Terpimpin tidak pernah dipasang di Monas. Suharto punya kebijakan sendiri. >>>

Cari
5 September
Yang terjadi adalah Selanjutnya...
   
   
Peristiwa yang terjadi pada tanggal kelahiranmu
MATERI
 
GURU
Nelly_c@n
Tanya
--------------------------------------------
PRAS man 1
hilangkan kesan belajar sejarah tidak menarik!!
--------------------------------------------
astrini novi puspita
gagasan belajar sejarah BARU!
--------------------------------------------
erly
Tanya Pak
--------------------------------------------
 
 

 
Komentar
Berpikir Historis Ala Wineburg
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
SMA 5 Yogya, Pak Edi: “Setiap kelas yang saya ajar, saya tantang?”
I. Kedatangan Orang-orang Eropa di Indonesia
Dialog
Barbara Hatley: “Setiap 4 Malam dalam Seminggu Saya Selalu Nonton Ketoprak”
Jennifer Lindsay: “Saya tidak lulus mata kuliah Sejarah”
“Baskoro T Wardaya: Kalau Pembelajaran Sejarah Hilang, Hilang pula Indonesia”
Anhar Gonggong: “Faktanya, Pemerintah Lebih Mendengarkan Taufiq Ismail Ketimbang Sejarawan”
Tips
SMA IT Bina Umat, Ibu Ary:‘Ketika di Presure dengan UNAS Saya Membikin Bersemangat dengan Sejarah
SMA 5 Yogya, Pak Edi: “Setiap kelas yang saya ajar, saya tantang?”
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
IHWAL PENGELOLA ALAMAT KIRIM TULISAN
Copyright @ 2009 BelajarSejarah.com, all rights reserved