BERANDA BERITA BUKU DIALOG ESAI FOTO FILM GAME GURU HAYAT
  KARYA SISWA TOKOH TIPS WISATA BUKU TAMU  
 
ABDOEL MOEIS, Indonesia untuk (Orang) Indonesia!
25-12-2009
 

Oleh Iswara N. Raditya

DENTANG logam beradu terdengar nyaring, membelah kesunyian desa di lereng barat Gunung Marapi, gunung api aktif di Bukittinggi. Sungai Puar memang kesohor sebagai desa penghasil peralatan logam dan menjadi sentra pemasok peluru. Penduduk daerah itu tak hanya perajin logam, mereka juga memproduksi tekstil dan tak lupa untuk tetap bertani di tanah mereka yang sangat subur karena berkah vulkanik dari Gunung Marapi.

Di Desa Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, itulah Abdoel Moeis dilahirkan pada 3 Juli 1883. Moeis adalah lulusan Hollandsche Burger School (HBS). Ia sempat menjadi pegawai negeri yang ia geluti beberapa waktu saja setelah memutuskan untuk tidak meneruskan studinya di sekolah dokter School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA).

Nama Moeis mulai naik daun ketika artikelnya sering dimuat di De Express milik Indische Partij (IP) yang dipimpin tiga serangkai Douwes Dekker, Soewardi Soerjaningrat, dan Tjipto Mangoenkoesoemo pada 1912. Di situ, Moeis kerap mengecam orang-orang Belanda yang merendahkan martabat kaum bumiputera.

Setelah De Expres dibredel akibat artikel keras Soewardi Soerjaningrat pada 1912, Moeis bergabung dengan majalah Hindia Sarekat sebagai redaktur. Ia juga masuk ke jajaran redaksi Oetoesan Hindia, media Sarekat Islam (SI), pada 1915. Dua tahun kemudian, ia bergabung dengan Neratja. Tahun 1922, Moeis bersama AH Wignjadisastra mendirikan koran Kaoem Moeda. Sebelumnya, Kaoem Kita terbit atas prakarsanya pada 1921. Wawasan jurnalistik Moeis yang seabrek itu diawalinya ketika bekerja di Preangerbode, suratkabar milik orang Belanda yang hadir pada kurun 1886-1923.

Dari sekian banyak suratkabar yang diawakinya -belum termasuk tulisan-tulisannya di pelbagai media lain- Moeis paling berperan sentral di suratkabar Neratja. Sebelum Moeis masuk, di Neratja sudah tercantum nama Agus Salim dan Djojosoediro sebagai redacteur, Derma Kasoema di posisi  directeur, serta M Soekandi di bagian administratie. Abdoel Moeis dianggap sangat layak direkrut sebagai pemimpin redaksi Neratja dan resmi bergabung pada 8 September 1917.

Selain bertanggungjawab penuh di keredaksian, Moeis juga memimpin perusahaan NV Neratja yang terutama mengiklankan perusahaan-perusahaan gula. Neratja memang merupakan organ dari Suikersindicaat (asosiasi pabrik gula) bumiputera Hindia. Hasil usaha Neratja digunakan juga untuk mendirikan perusahaan periklanan dan perusahaan penerbitan di Sumatera Timur.

“Haloeannja hendak menjokong dan membantoe segala oesaha pergerakan jang menoedjoe kebaikan dan kemadjoean bangsa dan tanah air, dengan djalan yang patoet”, itulah jargon harian Neratja. Pena tajam Moeis mengobarkan semangat perlawanan rakyat pribumi terhadap kolonialisme dan diskriminasi. Komitmen Moeis atas perbaikan nasib pribumi melekat pada karyanya.

Di Neratja inilah Moeis menumpahkan segenap cita-cita dan isi otaknya. Ia tak pernah jemu meneriakkan slogan nasionalisme serta menuntut pemerintahan sendiri untuk bumiputera. Berikut nukilan salah satu tulisan Moeis bertajuk “Perasaan Tjinta pada Bangsa dan Tanah Air, Nasionalisme” yang dimuat di Neratja edisi 16 Oktober 1916:

“Selama boemipoetera tanah Hindia beloem mempoenjai kebangsaan dan tanahair sedjati, maka perasaan tjinta pada tanahair dan bangsa itoe haroes dibangoenkan dalam chalboe boemipoetera itoe. Sebab soeatoe bangsa jang tidak mempoenjai perasaan itoe tidak akan madjoe, malah moendoer, djika ia koerang-koerang tegoeh berdiri pada batoe tapakannja.”

Seruan “Hindia boeat anak Hindia!” berkali-kali diteriakkan Moeis di Neratja. Lebih tegas dan garang, ia kembali membakar rasa kebangsaan bumiputera:

“Jang pertama-tama haroes kita miliki oentoek oesaha jang soekar dan berbahaja ini adalah rasa Kebangsaan, jaitoe tjinta kepada negara dan sesama bangsa kita. Bila kita renoengkan betapa boeroeknja nasib negara dan sesama bangsa kita jang beratoes-ratoes tahoen terbelenggoe oleh orang-orang asing, serasa berdebarlah hati kita, berdiri boeloe roma, dan kita merasa kasihan kepada negara dan sesama bangsa kita.”

Kemerdekaan Hindia. Ya, itulah yang menjadi pokok perjuangan Moeis, sebuah tuntutan berbahaya dan mustahil terwujud pada masa itu. Tapi Moeis mengawalinya dengan menyatakan bahwa tujuan dibentuknya pelbagai perhimpunan di Hindia adalah untuk memperbaiki nasib bumiputera. Dan bila ditelisik lebih jauh lagi, lanjut Moeis, bahwa “... perhimpoenan-perhimpoenan terseboet hanja satoe toejoeannja, jaitoe KEMERDEKAAN HINDIA!”

Moeis tak pernah menyebut Hindia Belanda untuk nusantara. Baginya, Hindia Belanda menjelaskan sebuah hubungan dari Belanda atas Hindia yang didasari atas kepemilikan dan dominasi. Tipe hubungan yang sama juga diekspresikan oleh kata "daerah jajahan" yang digunakan bagi Hindia. Moeis kemudian memberi makna politis dalam bentuk Hindia yang harus merdeka. Abdoel Moeis adalah salahsatu penggagas lahirnya nama Indonesia.

Perjalanan politik Moeis masih cukup panjang. Sebagai wakil SI, Moeis terpilih menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) bersama Tjokroaminoto, pemimpin pusat SI. Pada 1917, Moeis ke Negeri Belanda sebagai anggota Komite Indie Weerbaar, semacam milisi bumiputera, guna membicarakan masalah pertahanan bagi bangsa Indonesia. Moeis juga salahseorang aktor utama yang ikut andil mendepak orang-orang komunis dari SI melalui kebijakan disiplin partai yang melarang anggota SI merangkap anggota perhimpunan lain.

Pada 8 Februari 1922, Moeis ditangkap dan diasingkan ke Garut karena keterlibatannya dalam aksi mogok massal kaum buruh 11 Januari 1922.  Moeis adalah ketua Perserikatan Pegawai Pegadaian Boemiputera (PPPB). Penangkapan itu membuatnya tidak bisa terjun lagi ke arena pergerakan nasional. Moeis banting setir menjadi petani di tempat pembuangannya. Setelah kemerdekaan, ia mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan.

Abdoel Moeis juga kondang sebagai seorang sastrawan. Salah Asuhan yang melegenda itu adalah salahsatu karya monumentalnya. Selain itu, Moeis berperan di balik berdirinya Technische Hooge School di Bandung yang merupakan cikalbakal dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Abdoel Moeis wafat pada 17 Juni 1959 dan dikebumikan di Bandung, Jawa Barat.***

Iswara N. Raditya, Redaktur Sejarah www.MelayuOnline.com/Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), tinggal di Yogyakarta.

 

Oetoesan Hindia, media Sarekat Islam (SI), pada 1915.
 
Komentar 1
 

 
Peristiwa Kecil dan Nasionalisme
17-01-2010

 

Buku ini menghimpun potongan-potongan peristiwa kecil yang menarik dan remeh-temeh, persinggungan pribumi dengan teknologi-teknologi baru yang mengakibatkan perubahan sosial ketika kolonialisme tengah berlangsung pada tahun 1800-an dan 1900an  >>>

Berpikir Historis Ala Wineburg
08-01-2010

BUKU ini mengajak kita untuk berpikir kritis terhadap sejarah dan memberikan inspirasi untuk melakukan inovasi dalam pembelajaran sejarah. >>>

Menelusuri Jejak Leluhur Timor
26-12-2009

Buku ini menjadi referensi yang cukup penting karena sumber cetak tentang sejarah Timor masih sangat langka.

Batu, Seragam, dan Kekuasaan
22-12-2009

Tema-tema sketsa masa Demokrasi Terpimpin tidak pernah dipasang di Monas. Suharto punya kebijakan sendiri. >>>

Cari
6 September
Yang terjadi adalah Selanjutnya...
   
   
Peristiwa yang terjadi pada tanggal kelahiranmu
MATERI
 
GURU
Nelly_c@n
Tanya
--------------------------------------------
PRAS man 1
hilangkan kesan belajar sejarah tidak menarik!!
--------------------------------------------
astrini novi puspita
gagasan belajar sejarah BARU!
--------------------------------------------
erly
Tanya Pak
--------------------------------------------
 
 

 
Komentar
Berpikir Historis Ala Wineburg
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
SMA 5 Yogya, Pak Edi: “Setiap kelas yang saya ajar, saya tantang?”
I. Kedatangan Orang-orang Eropa di Indonesia
Dialog
Barbara Hatley: “Setiap 4 Malam dalam Seminggu Saya Selalu Nonton Ketoprak”
Jennifer Lindsay: “Saya tidak lulus mata kuliah Sejarah”
“Baskoro T Wardaya: Kalau Pembelajaran Sejarah Hilang, Hilang pula Indonesia”
Anhar Gonggong: “Faktanya, Pemerintah Lebih Mendengarkan Taufiq Ismail Ketimbang Sejarawan”
Tips
SMA IT Bina Umat, Ibu Ary:‘Ketika di Presure dengan UNAS Saya Membikin Bersemangat dengan Sejarah
SMA 5 Yogya, Pak Edi: “Setiap kelas yang saya ajar, saya tantang?”
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
IHWAL PENGELOLA ALAMAT KIRIM TULISAN
Copyright @ 2009 BelajarSejarah.com, all rights reserved