
JAQUES Pangemanann sudah lama mengamati anak muda bertampang Jawa itu: seorang pemuda kerempeng dengan tubuh yang tak begitu tegap, bercelana panjang serta kemeja pendek, semuanya serba putih. Dengan gesit, anak itu menghidangkan teh. Setelah meletakkan gelas terakhir, ia berdiri tegak, berucap sambutan selamat datang dengan bahasa Belanda yang fasih. Lantas, ia membungkuk, memperkenalkan diri: “Namakoe Semaoen.”
Pada kesempatan lain, Pangemanann sekali lagi mencitrakan sosok belia yang cukup menarik hatinya itu: “Seorang botjah beroemoer enam belas tahoen, bertoeboeh pendek, jang beberapa tahoen jang laloe masih melajani tamoe-tamoe VSTP Semarang. Dengan kelebihannja karena telah membatja beberapa boekoe berbahasa Belanda, dan berbakat pandai bitjara, ia telah memperlihatkan diri sebagai tjalon agitator jang tanggoeh. Botjah itoe bernama Semaoen.”
Dalam pandangan Pangemanann, Semaoen adalah seorang anak muda yang semangatnya sangat berkobar-kobar, seakan-akan dunia ini telah menjadi miliknya sendiri dan semua hati telah berpadu dengan hatinya. Dari mulut bocah itu pula untuk pertamakalinya pribumi mengenal kata-kata sihir imperialisme, kapitalisme, nasionalisme, internasionalisme. “Dan akoe jakin, botjah belasan tahoen itoe beloem mengerti sepenoehnja arti kata-kata kesajangannja itoe,” lanjut Pangemanann sambil menyunggingkan senyum. Pencitraan dan penilaian jurnalis kawakan itu tidaklah salah, meski belum sepenuhnya benar. Anak itu kelak akan mewujud menjadi badai yang menggelorakan ribuan massa pekerja untuk melawan penindasan.
Semenjak kecil, Semaoen sudah mengakrabi dunia keras kaum pekerja. Semaoen adalah anak Prawiroatmodjo, seorang tukang batu yang bekerja untuk jawatan kereta api. Semaoen lahir pada 1899 di Curahmalang, sebuah kota kecil di Mojokerto, Jawa Timur. Kendati bukan anak orang kaya ataupun berasal dari golongan priyayi, Semaoen berhasil sekolah di Tweede Klas atau sekolah bumiputera angka dua dan memperoleh pendidikan tambahan bahasa Belanda. Setelah lulus sekolah dasar, Semaoen kemudian bekerja di Staatsspoor (SS) Surabaya sebagai juru tulis.
Pada 1913, Semaoen masuk ke Sarekat Islam (SI) afdeling Surabaya, dan setahun berikutnya ia tampil ke muka sebagai sekretaris. Di awal 1915, Semaoen bertemu Sneevliet, perintis ide komunisme di Indonesia, dan bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) juga Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel (VSTP), serikat buruh kereta api dan trem. Akhirnya, Semaoen terpilih sebagai ketua SI Semarang pada 1917 menggusur Mohammad Joesoef. Sebelumnya, Semaoen adalah propagandis dan komisaris SI Semarang. Saat itu usianya baru delapanbelas tahun.
Dengan jabatan ketua inilah, Semaoen memimpin Sinar Djawa, suratkabar SI Semarang. Organ propaganda ini sejatinya sudah dimiliki Mohammad Joesoef sejak 1914 selaku pemimpin SI Semarang saat itu. Di tangan Semaoen, Sinar Djawa bergerak kuat ke kutub progresif dan radikal. Bersama Mas Marco Kartodikromo, Semaoen mengemudikan Sinar Djawa dengan gaya berteriak, menjambak, dan memukul: Sinar Djawa mewujud sebagai suratkabar kaum progresif yang berisi kritik dan kecaman terhadap pemerintah dan sekaligus corong Sarekat Islam (SI) dalam upaya mempropagandakan kekuatan massa. Dengarlah gelegar teriakan Semaoen dalam Sinar Djawa edisi 22 April 1918:
“Awas! Awas! Soedara-soedara, roekoen, roekoen, …. djangan seperti anak ketjil. Engatlah: Doerdjono hoera-hoera, wong tani ditaleni. Djaman edan. Koem Boeroeh Roekoenlah! Roekoen membikin koet dan koet menambah selamat. Kaoem Boeroh, koempollah djadi satoe!”
Radikalisme Sinar Djawa membikin Mohammad Joesoef berang. Ia mendakwa otak Semaoen sudah diracuni Sneevliet. Semaoen menyerang balik dengan mengatakan, selama ini Sinar Djawa terlalu lembek terhadap pemerintah kolonial. Jika ini dipertahankan, upaya untuk lepas dari jejaring kolonialisme-imperialisme mustahil tercapai. Semaoen berteguh membawa Sinar Djawa pada karakternya yang keras. Bersamanya, Sinar Djawa memilih lajur kiri. Gaya baru Sinar Djawa ini justru menuai puji dari pejabat pemerintah, Dr Rinkes, penasehat urusan bumiputera, yang dalam kunjungan penilaian jurnal pergerakan pada 1917, mencatat adanya perbaikan mutu Sinar Djawa setelah dipegang Semaoen.
Lelaku ngeyel Semaoen juga membuat murka pemimpin pusat SI, Tjokroaminoto, serta para pejabat SI lainnya. Dan, setelah melewati intrik rumit, Semaoen beserta rombongan SI Semarang angkat kaki dari SI pimpinan Tjokroaminoto dan mendirikan SI Merah alias Sarekat Rakjat yang merupakan cikalbakal Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan Semaoen sebagai pemimpin pertamanya. Semaoen pun hengkang dari Sinar Djawa dan menerbitkan Sinar Hindia pada 1922.
Sepak-terjang non kooperatif Semaoen di jagad pers pribumi terus menanjak. Pada 1925, bersama Tan Malaka dan Tjempono, ia menerbitkan Njala. Media radikal ini menjadi corong kaum komunis yang senantiasa berpikir, menulis, bertindak, menyetir gelombang rakyat, serta menentang pemerintah. Seruan-seruan Njala pun menjadi sangat luas cakupannya dalam membangkitkan nasionalisme rakyat tertindas. Simak seruan pengobar semangat Njala pada edisi 26 Oktober 1925:
“Saudara-saudara! Sekarang kamoe kalah dalam pertandingan. Tetapi kami pertjaja bahwa di kemoedian kamoe akan dapat djalan djoega oentoek menoentoet kemenangan asalkan kamoe meoe menoentoet! Ra’jat Indonesia, sadarlah atas pendirian klas jang asa padamoe dan pertjajalah bahwa kemenangan klasmoe itoe hanja bergantoeng atas kekoetanmoe!”
Selain via Sinar Djawa, Sinar Hindia, dan Njala, Semaoen juga menuangkan gagasan-gagasan lugasnya melalui suratkabar lainnya, di antaranya Otoesan Hindia, Masa Baroe, Soeara Bekelai, Persatoean Hindia, Doenia Bergerak, Soeara Kaoem Boeroeh, dan lain-lainnya. Selain itu, Semaoen juga berhasil membukukan karya-karya tulisnya. Selaras dengan ideologinya, nyaris semua hasil pikir Semaoen berciri progresif-radikal, terutama yang membahas nasib kaum buruh dan pekerja.
Sempat diasingkan ke Eropa karena terlibat percobaan aksi buruh massal pada 1923, naluri komunis radikal Semaoen tak pernah luruh. Jiwa kerakyatannya menyala-nyala. Akhir riwayat, sang pengobar semangat rakyat Hindia ini meninggal dunia tahun 1971 pada usia 72 tahun. Sebelum mangkat, Semaoen sempat berucap: “Hawa panas di Hindia, negeri Arab, Hindoe, Tionghoa…. penting dalam ilmoe ghaib, ataoe sering dikodratkan oleh Toehan jang Maha Koeasa mengeloarkan Nabi ataoe Begawan-begawan jang terbesar-besar.” (Iswara N Raditya)
|