BERANDA BERITA BUKU DIALOG ESAI FOTO FILM GAME GURU HAYAT
  KARYA SISWA TOKOH TIPS WISATA BUKU TAMU  
 
Napak Tilas Rumah Bupati Purworejo
27-10-2009
 

Oleh: Hendri Utomo (Alumnus Ilmu Sejarah UNY)

Bangunan seperti pada foto di samping adalah Rumah Dinas Bupati Purworejo. Diantara sekian banyak Benda Cagar Budaya (BCB) di Purworejo, yang cukup menarik untuk diketahui sejarah, perkembangan, dan kondisinya saat ini adalah pendapa Rumah Dinas Bupati Purworejo. Hingga saat ini, bangunan yang menjadi simbol dari eksistensi pemerintah di Kabupaten Purworejo itu tetap tegak berdiri dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Teryata tidak mudah untuk menemukan data sejarah yang bersifat komprehensif terkait peninggalan masa megalitik, klasik (Hindu), maupun warisan masa penjajahan Kolonial Belanda termasuk pendapa Purworejo. Kendati demikian, sejumlah data yang setidaknya bisa menggambarkan secara singkat mengenai bangunan itu berhasil didapatkan.

Salah satunya yakni data sejarah yang diperoleh dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kabupaten Purworejo. Data itu menyebutkan perkiraan bangunan pendapa Kabupaten Purworejo telah dibangun sekitar tahun 1840, pada masa pemerintahan Bupati Purworejo pertama RAA Tjokronegoro I. Rumah dalem Bupati sendiri kemungkinan lebih tua, yakni dibangun sekitar tahun 1833.

"Berdasarkan data itu, bangunan utama pendapa Kabupaten Purworejo umurnya sudah mencapai 169 tahun. Sementara dalem bupati lebih tua tujuh tahun yakni mencapai 176 tahun," ungkap Kasie Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas P dan K, Eko Riyanto.

Berdasarkan data sejarah yang ada, rumah bupati mempunyai arti filosofis dengan Keraton Surakarta. Sumbu imajiner utara-selatan dipegang teguh karena sumbu ini merupakan garis sakral.

"Dalam kosmologi Jawa, arah selatan menghadap Samudera Indonesia, tempat berkuasanya Nyi Roro Kidul yang dipercaya sebagai penguasa Laut Selatan. Selain itu, dimaksudkan untuk tidak membelakangi Keraton Surakarta yang dihormatinya," imbuhya.

"Berdasarkan perjanjian Giyanti yang memisahkan Keraton Surakarta dan Yogyakarta, wilayah Purworejo (Bagelen) itu di bawah Surakarta, jadi Keraton Surakarta memang sangat dihormati," tambahnya.

Lebih lanjut dijelaskan, bangunan itu secara umum terbagi menjadi dua bagian. Pertama bangunan pendapa yang merupakan bangunan terbuka tanpa dinding, setangkup, atap joglo ditutup genteng plentong kodok, dan listplank motif geometris.

Lantai teras dan emper berbahan keramik, sedangkan bagian dalam beralaskan ubin tegel. Plafon kayu menempel usuk dengan balok-balok kuning yang kelihatan di bawahnya. Atap ditopang dengan empat saka guru, 12 saka rowo, dan 20 saka emper terbuat dari kayu jati perseni serta saka goco dari besi.

Pada bagian saka guru tidak ketinggalan dihiasi ornamen daun warna emas berdiri di atas umpak batu dengan mustaka melebar dihiasi motif daun warna emas. Saka emper dan saka rowo dihubungkan dengan balok-balok gantung sebagai penguat.

"Di pertemuan antara saka rowo dan murplat dihiasi ornamen daun warna emas. Pada sisi utara dan sebagian timur dan barat terdapat pagar kayu. Sementara entrace bangunan berupa kanopi, atap pelana ditutup genteng pres kodok dan ditopang empat buah saka besi. Gunungan depan ditutup sopi-sopi kayu. Bangunan pendapa ini digunakan sebagai tempat pertemuan," paparnya.

Selanjutnya, bagian kedua berupa bangunan induk yang sekarang digunakan sebagai tempat tinggal Bupati Purworejo. Bangunan ini dihubungkan oleh selasar, atap pelana ditutup genteng pres kodok yang ditopang dengan empat buah kolom kayu persegi.

"Bangunan induk ini memiliki denah persegi panjang, atap limasan majemuk ditutup genteng pres kodok dengan listplank motif geometris, lantai keramik dan plafon kayu. Entrace bangunan berupa ruang teras menjorok ke dalam yang ditopang empat kolom masif persegi berderet-berdiri di atas umpak. Di sisi-sisinya terdapat pilaster sejajar dengan empat buah kolom di tengah dan berdiri di atas umpak," tambahnya.

Di antara kolom-kolom tengah terdapat pagar kayu berornamen sebagai pembatas teras dan selasar. Bagian depan dan sebagian samping kanan kiri terdapat selasar (galeri) di topang saka-saka kayu persegi yang ditutup sopi-sopi di ambang atasnya. Selasar bagian samping ditopang saka-saka besi.

Pada facade terdapat pintu utama tinggi bentuk dobel, yaitu kupu tarung panil empat buah dengan jendela tinggi dan kupu tarung panil kaca sebelah dalam dengan bouvenlicht kaca di atasnya. Bangunan induk berbentuk dobel, kupu tarung panil krepyak kayu sebelah luar dan kupu tarung panil kaca sebelah dalam.

Lain lagi di sisi barat dan timur bagian tengah bangunan, terdapat teras menjorok ke dalam yang ditopang dengan tiga buah kolom masif persegi dibatasi pagar kayu berornamen. Bagunan induk itu dibatasi pagar dinding pada pintu masuk kupu tarung panil kayu dengan bovenlicht lengkung ram kayu di atasnya.

Bagian dalam pagar terdapat beberapa unit bangunan, antara lain selasar yang menghubungkan bangunan induk dengan bangunan servis, seperti dapur, kamar mandi, dan WC. Atap selasar pelana ditutup genteng pres kodok yang ditopang kolom-kolom beton persegi. Lantai keramik, plafon eternit. Selain bangunan servis terdapat dua buah bangunan persegi.

"Sebagian besar gaya arsitektur dan bagian bangunan masih dipertahakan sesuai aslinya. Hanya ada beberapa perubahan kecil dalam warna pengecatan. Jika komplek pendapa Rumah Dinas itu dulunya berdiri sendiri di sebelah utara alun-alun, kompleknya kini sudah dipenuhi oleh perkantoran dan fasilitas publik lainnya," jelasnya.

Komplek itu terdiri dari Kantor Sekpri Bupati di sebelah barat bangunan induk, Kantor BKD Purworejo, Kantor KPUD, Gedung Loka Adibina, Mushola, lapangan tenis, perpustakaan Dharma Wanita, kantor PKK, dan pos penjagaan Satpol PP yang semuanya merupakan bangunan baru.

Salah satu yang menarik lagi dari bangunan pendapa dan dalem bupati ini yakni integritas langgam yang ditunjukkan merupakan perpaduan gaya tradisional (pendopo dan bentuk atap joglo) dengan gaya indische architecture (adanya bukaan lebar dan selasar).

"Sebuah integritas kekriyaan yang tidak jamak dijumpai di Kabupaten Purworejo. Bangunan pendapa bupati ini memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Purworejo dan menjadi salah satu citra kawasan wilayah alun-alun Purworejo dan unsur pembentuk tata kota kuno," pungkasnya.

 
Komentar 0
 

 
Peristiwa Kecil dan Nasionalisme
17-01-2010

 

Buku ini menghimpun potongan-potongan peristiwa kecil yang menarik dan remeh-temeh, persinggungan pribumi dengan teknologi-teknologi baru yang mengakibatkan perubahan sosial ketika kolonialisme tengah berlangsung pada tahun 1800-an dan 1900an  >>>

Berpikir Historis Ala Wineburg
08-01-2010

BUKU ini mengajak kita untuk berpikir kritis terhadap sejarah dan memberikan inspirasi untuk melakukan inovasi dalam pembelajaran sejarah. >>>

Menelusuri Jejak Leluhur Timor
26-12-2009

Buku ini menjadi referensi yang cukup penting karena sumber cetak tentang sejarah Timor masih sangat langka.

Batu, Seragam, dan Kekuasaan
22-12-2009

Tema-tema sketsa masa Demokrasi Terpimpin tidak pernah dipasang di Monas. Suharto punya kebijakan sendiri. >>>

Cari
6 September
Yang terjadi adalah Selanjutnya...
   
   
Peristiwa yang terjadi pada tanggal kelahiranmu
MATERI
 
GURU
Nelly_c@n
Tanya
--------------------------------------------
PRAS man 1
hilangkan kesan belajar sejarah tidak menarik!!
--------------------------------------------
astrini novi puspita
gagasan belajar sejarah BARU!
--------------------------------------------
erly
Tanya Pak
--------------------------------------------
 
 

 
Komentar
Berpikir Historis Ala Wineburg
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
SMA 5 Yogya, Pak Edi: “Setiap kelas yang saya ajar, saya tantang?”
I. Kedatangan Orang-orang Eropa di Indonesia
Dialog
Barbara Hatley: “Setiap 4 Malam dalam Seminggu Saya Selalu Nonton Ketoprak”
Jennifer Lindsay: “Saya tidak lulus mata kuliah Sejarah”
“Baskoro T Wardaya: Kalau Pembelajaran Sejarah Hilang, Hilang pula Indonesia”
Anhar Gonggong: “Faktanya, Pemerintah Lebih Mendengarkan Taufiq Ismail Ketimbang Sejarawan”
Tips
SMA IT Bina Umat, Ibu Ary:‘Ketika di Presure dengan UNAS Saya Membikin Bersemangat dengan Sejarah
SMA 5 Yogya, Pak Edi: “Setiap kelas yang saya ajar, saya tantang?”
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
IHWAL PENGELOLA ALAMAT KIRIM TULISAN
Copyright @ 2009 BelajarSejarah.com, all rights reserved