BERANDA BERITA BUKU DIALOG ESAI FOTO FILM GAME GURU HAYAT
  KARYA SISWA TOKOH TIPS WISATA BUKU TAMU  
 
Bedug Kiai Bagelen, Terbesar di Dunia!
31-10-2009
 
Oleh Hendri Utomo
Mobil pribadi dan bus wisata dari luar kota di sebelah barat alun-alun Purworejo. Pemadangan itu yang acap kali terlihat di hari-hari biasa terlebih di hari-hari besar agama Islam. Di sana, tepat di serambi majid Agung Darul Muttaqin Purworejo, nampak Bedug Kiai Bagelen masih terlihat kokoh bergantung. Eksistensi Islam di kabupaten Purworejo cukup direkatkan dengan berbagai peninggalan benda-benda sejarah termasuk Bedug Kiai Bagelen yang masuk dalam periode perjalanan syiar-syiar Islam abad XIX. Alat penanda wakut sholat yang konon terbesar di dunia itu ternyata mengandung sisi historis yang membentuk rentetan perjalanan syiar Islam di Purworejo.
Bedug Kiai Bagelen pada dasarnya diciptakan sebagai alat penanda sholat. Konon, pada saat pemerintah Hindia Belanda telah mengangkat Kanjeng Raden Tumenggung Cokronegoro I sebagai Bupati di wilayah Tanah Bagelen Pasca perang Diponegoro (1825–1830). Prosesi itu juga diikuti dengan pengangkatan patih (pembantu Bupati) yaitu Raden Cokrojoyo.
Salah satu bukti sejarah yang ditinggalkan yakni prasasti berbentuk tulisan yang tertempel di atas pintu utama Masjid. Pembangunan masjid dilakukan oleh Cokronegoro I yang saat itu menjabat sebagai Bupati yang memeluk agama Islam.
Masjid Agung Darul Muttaqin berdiri di atas tanah wakaf seluas 70 x 80 meter persegi.
Masjid tersebut berukuran 21 x 22 meter persegi dan berdiri tepat di sebelah barat alun-alun Purworejo. Bangunan masjid juga tedapat bangunan gandok berukuran kurang lebih 10 x 21 meter persegi sayap kanan dan kirinya.
Sebagai salah satu saran pelengkap Masjid, Cokronegoro I membuat sebuah bedug istimewa untuk tanda pengingat dan tetenger (peringatan bagi masyarakat di kemudian hari). Cokronegoro I bermusyawarah, ketika itu bersama Mas Tumenggung Prawironegoro Wedana Bragolan (adik kandung Bupati Cokro I).
Ide pembuatan bedug dimunculkan dan dijalankan. Bahan baku bendug dibuat dari bongkot pohon Jati (pangkal pohon Jati) berumur ratusan tahun yang diambil di Dusun Pendowo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo.
Tradisi lisan mengatakan bahwa pohon Jati yang digunakan untuk membuat bedug mempunyai cabang lima, dengan ukuran yang cukup besar dan tidak cukup untuk dirangkul tiga orang sekaligus.
Lebih jelasnya, jika anda menyempatkan diri untuk mampir sholat di masjid Agung, maka akan ditemui data yang cukup lengkap di samping bedug. Diantaranya panjang bedug 292 cm, garis tengah depan 194 cm, garis tengah belakang 180 cm, keliling bagian depan 601 cm dan keliling bagian belakang 564 cm.
Lulang atau kulit diambilkan dari kulit Banteng, pasalnya diameter bedug begitu besar. Jumlah paku untuk merekatkan kulit di bagian depan sebanyak 120 paku, sementara paku di bagian belakang berjumlah 98 buah.
Menurut Ulama Desa Jenar Kidul, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, M Djalal Sujuti, bedug itu diberi nama Kyai Bagelen atau Bedug Pendowo. Selama keberdaannya pernah mengalami penggantian lulang (kulit penutup bedug) tepat pada usia 102 tahun yakni tanggal 3 mei 1936.
"Kulit Banteng bagian belakang rusak dimakan usia. Karena banteng waktu itu sudah susah didapatkan, kemudian digganti dengan kulit sapi pemacek dari Desa Winong kecamatan Kemiri Purworejo," katanya.
 Nilai historis bedug ini tidak berhenti di situ. Sumber lisan yang berhasil dihimpun menyatakan bahwa proses pemindahan pohon menjadi bedug juga menyisakan kisah yang menarik.
Bedug Kyai Bagelen dibuat di Dusun Pendowo (Jenar) dan setelah jadi baru dipindah ke Kota Purworejo. Sementara Jarak Pendowo dan kota sekitar 9 kilometer. dengan kondisi waktu itu jalan sangat sukar untuk dilalui.
Proses pemindahan menuju Kyai Haji Muhammad Irsyad (Kaum di Desa Solotiyang Kecamatan Loano) oleh Cokronegoro I. Caranya dengan mengangkut secara beramai-ramai dengan diiringi bunyi gamelan lengkap dengan penari Tayub yang telah di perisiapkan di setiap pos pemberhentian.
Bedug Kyai Bagelen tiba di Masjid Agung Kabupaten Purworejo dan hingga sekarang Bedug Kyai Bagelen tergantung kokoh ditempatnya. Bedug Bagelen yang syarat akan nilai hitoris pun selalu terdengar gaungnya tidak hanya sebagai penanda sholat tetapi juga sebagai bunyi syiar Islam di Kabupaten Purworejo.
Jika Anda ingin mendengarkan suara bedug ini, silahkan Anda datang setiap hari Jum’at atau hari-hari besar Islam. Pasalnya, Bedug Kiai Bagelen hanya akan dibunyikan setiap hari Jum’at dan hari-hari besar Islam saja.
 
Komentar 0
 

 
Peristiwa Kecil dan Nasionalisme
17-01-2010

 

Buku ini menghimpun potongan-potongan peristiwa kecil yang menarik dan remeh-temeh, persinggungan pribumi dengan teknologi-teknologi baru yang mengakibatkan perubahan sosial ketika kolonialisme tengah berlangsung pada tahun 1800-an dan 1900an  >>>

Berpikir Historis Ala Wineburg
08-01-2010

BUKU ini mengajak kita untuk berpikir kritis terhadap sejarah dan memberikan inspirasi untuk melakukan inovasi dalam pembelajaran sejarah. >>>

Menelusuri Jejak Leluhur Timor
26-12-2009

Buku ini menjadi referensi yang cukup penting karena sumber cetak tentang sejarah Timor masih sangat langka.

Batu, Seragam, dan Kekuasaan
22-12-2009

Tema-tema sketsa masa Demokrasi Terpimpin tidak pernah dipasang di Monas. Suharto punya kebijakan sendiri. >>>

Cari
6 September
Yang terjadi adalah Selanjutnya...
   
   
Peristiwa yang terjadi pada tanggal kelahiranmu
MATERI
 
GURU
Nelly_c@n
Tanya
--------------------------------------------
PRAS man 1
hilangkan kesan belajar sejarah tidak menarik!!
--------------------------------------------
astrini novi puspita
gagasan belajar sejarah BARU!
--------------------------------------------
erly
Tanya Pak
--------------------------------------------
 
 

 
Komentar
Berpikir Historis Ala Wineburg
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
SMA 5 Yogya, Pak Edi: “Setiap kelas yang saya ajar, saya tantang?”
I. Kedatangan Orang-orang Eropa di Indonesia
Dialog
Barbara Hatley: “Setiap 4 Malam dalam Seminggu Saya Selalu Nonton Ketoprak”
Jennifer Lindsay: “Saya tidak lulus mata kuliah Sejarah”
“Baskoro T Wardaya: Kalau Pembelajaran Sejarah Hilang, Hilang pula Indonesia”
Anhar Gonggong: “Faktanya, Pemerintah Lebih Mendengarkan Taufiq Ismail Ketimbang Sejarawan”
Tips
SMA IT Bina Umat, Ibu Ary:‘Ketika di Presure dengan UNAS Saya Membikin Bersemangat dengan Sejarah
SMA 5 Yogya, Pak Edi: “Setiap kelas yang saya ajar, saya tantang?”
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
IHWAL PENGELOLA ALAMAT KIRIM TULISAN
Copyright @ 2009 BelajarSejarah.com, all rights reserved