Oleh Rhoma Dwi Aria Yuliantri
Beberapa waktu lalu saya menulis sebuah artikel bertema “Musik Indonesia di kurun 1960-65". Beruntung, makalah itu dibahas oleh dua orang teman dari Amerika dan Belanda. Saya yakin perspektif lain akan muncul. Saya sempat terkejut kemudian, tatkala pertanyaan yang diajukan tustru tentang ‘engaruh musik klasik Barat terhadap musik Indonesia pada konteks pembahasan artikel saya. Hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Tersadarlah bahwa musik klasik memberi pengaruh besar terhadap perjalanan musik Indonesia. Ingatan saya pun langsung tertuju kepada sosok komponis Amir Pasaribu.
Untuk kedua kalinya, saya masih beruntung. Sambil menunggu perjalanan pesawat menuju Yogya, saya mampir ke sebuah toko buku di Jakarta, di antara baris rak yang berjajar saya menemui buku Eritha Rohana Sitorus yang akan membantu meluaskan pengetahuan tentang musik klasik, berjudul Amir Pasaribu: Komponis, Pendidik & Perintis Musik Klasik di Indonesia [Media Kretifa 2009, jumlah halaman 161].
Eritha Rohana Sitorus memulai dengan kehidupan Amir kecil. Amir dilahirkan 21 Mei 1915. Masa kecil Amir digambarkan selintas lalu. Pada bagian pembuka Eritha banyak membahas kondisi sosial, politikk dan geografi daerah Batak yang memberikan penggaruh pada pendidikan Amir. Sosok Amir seperti digambarkan Eritha tumbuh di lingkungan yang menyukai musik klasik: "mir Pasaribu, sewaktu kecil biasa mendengarkan lagu-lagu Jerman, dan lagu-lagu Klasik dari gramofon ayahnya. Ayahnya memiliki orgel harmonium…. Amir sekeluarga senang mendengarkan musik klasik" [p.14].
Pendidikan yang dikenyam Amir nampaknya memberi banyak kontribusi pada perjalanan musiknya, meskipun ia sempat dikeluarkan dari sekolahnya karena dia dianggap bengal. Pada malam hari, Amir bersama teman-temannya acapkali menyelinap dari asrama untuk membeli makanan. Beberapa kali ia tertangkap. Terakhir kali tertangkap, ia harus menerima hukuman dipukul dengan rotan dan dianggap sebagai kepala perampok. Alhasil, ia harus keluar dari HIS di Narumonda [p. 17].
Amir melanjutkan pendidikannya di Europeese Lagere School. Di sinilah Amir belajar biola dan piano. Memutuskan melanjutkan sekolah di HIK Bandung, membuat bakat musik Amir semakin berkembang, apalagi di Jawa ia bisa mencari guru musik sesuai keinginannya. Amir acapkali bermain musik di sore hari, dengan membawakan lagu-lagu klasik di kebun-kebun teh milik orang Belanda. Atas ajakan teman-teman band dari Filipina, ia sempat menjadi pemain celo di kapal pesiar, hingga ia bisa melanjutkan sekolah di Musashino Music School di Jepang. Kemahirannya bermain musik jualah yang menyebabkan ia diloloskan duta besar Belanda untuk belajar musik klasik ke Eropa.
Dengan ilmu yang cukup matang, Amir Pasaribu lahir tidak hanya menjadi pemusik tetapi juga pencipta lagu dan kritikus musik yang handal. Beberapa kritik Amir Pasaribu ini dilansir di Mimbar Indonesia. Saya pernah membaca artikelnya bertajuk ‘Konser Populer 7 Desember’ dan ‘Musik di Ibu Kota: Duo Giesen-Hoenderkamp’. Nampaknya Amir adalah kritikus musik yang baik. RRI, salah satu media yang memberi andil besar menaikkan musik-musik Indonesia, tak luput dari kritikannya karena mengunakan istilah musik yang salah dalam siarannya.
Dalam buku Teguh Esha, dkk Ismail marzuki: Musik, Tanah Air dan Cinta (Yogyakarta, 2005: LP3ES), diungkapkan betapa kerasnya Amir mengkritik Ismail Marzuki dengan menyebut musiknya dengan istilah "onggol-onggol" alias pasaran. Sayang hal ini tidak diulas mendalam oleh Eritha. Ertitha justru menyoroti polemik Amir Pasaribu dengan Armijn Pane. Amir tidak setuju dengan anggapan Armijn Pane atas musik C. Simanjutak yang dianggap musik bernafas gereja [6].
Artikel Tempo 51/XXXVII 09 Februari 2009 menceritakan, Amir pernah melakukan perjalanan (1954) bersama sastrawan Rivai Apin, novelis Pramoedya Ananta Toer, budayawan Joebar Ajoeb, dan pelukis Basuki Resobowo, yang notabene adalah penggurus dan anggota Lembaga Kebudayaan Rakjat (Lekra). Hingga memungkasi membaca buku ini saya terus bertanya-tanya "sejauh dan sedekat apa hubungan mereka?". Sayang saya tidak menemukan jawaban dalam buku Eritha ini.
Lepas dari semua itu, Eritha Rohana Sitorus sudah berupaya keras untuk menyajikan sebuah biografi yang utuh. Sebuah kerja keras yang pantas dihargai. Buku ini menjadi penting untuk melihat perjalanan dan sepak terjang musik Indonesia, menjadi lentera bagi siapa saja yang ingin menggenal sosok Amir Pasaribu lebih dekat, sekaligus membuat kita tak bisa menyangkal bahwa musik Klasik Barat memberi andil yang besar pertumbuhan terhadap musik Indonesia.***
Rhoma Dwi Aria Yuliantri (Periset Sejarah) |