BERANDA BERITA BUKU DIALOG ESAI FOTO FILM GAME GURU HAYAT
  KARYA SISWA TOKOH TIPS WISATA BUKU TAMU  
Makna Hijrah Bagi Lingkungan
16-12-2009

Oleh M. Asri Arief

Dalam perspektif sosiologis, Max Weber, menyimpulkan bahwa hijrah adalah peristiwa sejarah yang sangat signifikan dalam menentukan perkembangan motif-motif Islam.

Sebuah motif, menurut tafsiran sosiologi, merupakan deskripsi verbal yang memberikan penjelasan atau dasar kebenaran tingkah laku yang telah dilakukan oleh seorang aktor sosial. Menurut Weber, Islam sebelum hijrah ke Madinah merupakan ajaran Monotheisme murni yang potensial menyebabkan asketisme duniawi. Namun, lanjut Weber, Islam mulai berubah arah sejak prosesi hijrah yang kemudian melahirkan dua kekuatan sosial. Pertama, prajurit Badui yang mengubah Islam menjadi a sensual religion of accomodation and conformity. Kekuatan kedua, persaudaraan sufi dengan menolak other worldly religion of the masses. Kedua hal tersebut, menurut Weber, melahirkan seperangkat norma yang saling bertolak belakang yaitu Islam mengandung etika kesenangan fisik dan etika penolakan duniawi.

Analisis tersebut tentu mendapat reaksi, karena Weber ternyata kurang mampu merekam kronologis hijrah secara tuntas. Hijrah tidak saja menandai perubahan dramatik dalam pertumbuhan ummat Islam, tetapi juga pembentukan komunitas muslim di tengah masyarakat pluralis di Madinah yang sebelumnya juga dihuni dua agama Semitik (Abrahamic religions): Yahudi dan Nasrani. Selain itu, hijrah juga dipandang sebagai tonggak awal peralihan yang cukup signifikan dalam materi pokok dan visi kerisalahan Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu, tegas Ahmad Najib Burhani (1997), setelah pencanangan revolusi teologis yang berintikan semangat tauhid maka perlu ditindaklanjuti menuju tahap yang lebih universal yaitu revolusi sosiologis. Sasarannya adalah tingkat struktural dan kultural ummat dengan menjadikan keadilan dan kemakmuran sebagai doktrin sandaran. Peralihan ini dapat dipahami, karena nilai-nilai esensial Islam dalam al-Quran bersifat akfif dan dinamis, tidak berhenti pada tataran pengayaan horizon pengalaman keberagaman individu tetapi berlanjut implikasinya pada dimensi sosial.

Makna Bagi Kita

Mengapa hijrah dianggap penting dan monumental, sehingga Khalifah Umar bin Khattab menetapkannya sebagai awal perhitungan kalender hijriah? Sejak hijrahnya Nabi Muhammad SAW, aksentuasi perjuangan Islam lebih diorientasikan pada penataan masyarakat muslim untuk membangun kekuatan masyarakat di bawah kepemimpinan Nabi SAW. Mayoritas ahli sejarah dan kebudayaan Islam juga sepakat, setelah hijrah ke Madinah, tatanan kemasyarakatan dengan konstitusi dan batasan-batasan teritorial yang tegas telah diletakkan Nabi SAW. Membela jiwa raga, keluarga dan harta dan gangguan orang lain serta membangun/membela tanah air dari agresi musuh merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Hijrah Nabi SAW dapat dijadikan cermin yang merefleksikan cinta kepada tanah air dan sesama masyarakat, secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Kalau Nabi Muhammad SAW pada konteks zamannya hendak memperjuangkan prinsip Islam yang mendamaikan sebagai turunan dan semangat Islam yang memberikan kebaikan bagi seluruh ummat, maka kita pun seharusnya merumuskan prinsip Islam sesuai konteks Indonesia. Menurut Nur Imroatus (2007), pada bidang ekonomi, prinsip Islam berpihak pada orang miskin. Cara yang dilakukan untuk mencapai tujuan tentu saja tidak sebatas menghukum orang yang tidak mengeluarkan zakat, tetapi juga memberikan pemahaman publik bahwa kemiskinan bukan sebatas takdir tapi juga didesain oleh sistem kekuasaan tertentu. Sehingga, penataan sistem ekonomi perlu dimodifikasi ke arah sistem yang lebih berpihak pada rakyat miskin.

Pada bidang hukum, prinsip Islam adalah adil, bukan mengadili atau seadil-adilnya. Mengadili mengasumsikan ada yang lebih adil dari Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga muncul praktek atau kasus suap. Seadil-adilnya mengasumsikan bahwa sistem hukum rentan dengan ketidak-adilan dan membuat pihak yang berurusan dengan hukum waspada kalau-kalau tidak diperlakukan secara adil. Sebagai langkah bijaksana, bisa jadi membentuk sistem hukum dan perundang-undangan yang lebih baik. Dapat juga melalui pendidikan hukum sejak dini bagi semua pihak, baik secara formal maupun nonformal pada seluruh strata pendidikan.

Dalam bidang lain pun tentu tak jauh berbeda, karena pada dasarnya merefleksikan makna hijrah dalam kehidupan sosial kemasyarakatan merupakan satu bentuk pembumian ajaran al-Quran dengan tujuan ideal tercapainya tatanan sosial politik yang ditegakkan atas landasan moral iman, sekaligus menjamin hak kebebasan setiap golongan untuk mengembangkan pola-pola budaya yang beragam.

Perspektif Lingkungan

Ada beberapa pokok fikiran hijrah yang dapat ditarik sebagai kerangka epistemologis pemikiran untuk melakukan perubahan meskipun dalam konteks kehidupan sosio-kultural masyarakat yang berbeda di era kontemporer masa kini. Pertama, lahirnya tokoh universal, seorang tokoh yang tidak terkait dan terikat dengan kepentingan primordial. Saat itu, Nabi SAW adalah tokoh universal, terlepas dari seluruh bentuk ego sektoral. Kedua, hijrah harus memiliki pondasi, niat yang tulus, bukan sebatas kepentingan keduniawian. Ketiga, hijrah Nabi SAW mengandung konsep strategi politik sebagai instrumen untuk melebarkan sayap dakwah. Keempat, hijrah membutuhkan kesabaran.

Dari uraian di atas, fenomena hijrah dapat dibandingkan dengan kondisi aktual bangsa kita saat ini. Dalam perspektif lingkungan hidup, kalau kita lacak secara epistemologis, sesungguhnya keterpurukan bangsa Indonesia yang dilanda berbagai bencana alam disebabkan oleh problem moralitas masyarakat yang belum menegaskan identitas diri sebagai bangsa pelestari Iingkungan hidup. Begitu pula para pemimpin atau pengambil kebijakan, masih banyak yang berorientasi sektoral untuk kepentingan sesaat. Akibatnya, penggundulan hutan pun tetap terjadi, begitu pula eksploitasi sumberdaya alam dan lingkungan lainnya marak dilakukan tanpa memperhitungkan aspek ekologis.

Secara sederhana, semua permasalahan lingkungan yang melilit bangsa ini sesungguhnya berawal dari tidak adanya niat yang tulus untuk membangun bangsa ke arah yang lebih baik. Konsep pemberdayaan ekonomi kerakyatan sekedar program, seluruh potensi kekayaan alam dan lingkungan pun tidak sungguh-sungguh digunakan untuk kepentingan seluruh rakyat. Dalam konteks inilah, renungan hijrah menemukan relevansinya. Kata kuncinya, bagaimana meneguhkan komitmen yang tulus untuk membangun bangsa Indonesia tanpa ada tendensi ego sektoral atau gerakan politik primordial yang semata menguntungkan suatu komunitas tertentu.

Harus diyakini, Indonesia selalu disebut berpotensi menjadi bangsa yang besar, Realisasinya, tergantung seberapa jauh kita mampu bersatu. Harus ada pemimpin yang benar-benar berorientasi pada kepentingan rakyat, begitu pula harus ada kelompok masyarakat dengan kesadaran tanggung jawab sejarah (critical mass) untuk menentukan arah pembangunan Indonesia. Niat yang tulus harus pula menjadi pondasi pelestarian lingkungan hidup, sehingga melahirkan sikap malu membuang sampah di badan sungai dan merasa berdosa jika tidak membangun areal resapan air di sekitar rumah masing-masing. Begitu pula hutan-hutan kita, tidak lagi dieksploitasi berdalih pembangunan.

Selamat tahun baru 1431 Hijriah, semoga tahun baru menjadi bagian dari masa depan lingkungan Indonesia yang indah dan teduh. Sembari tidak memanjakan harapan, bangsa Indonesia memang harus mulai bekerja keras. Elit politik pun wajib menjunjung kepentingan rakyat, menjadikan tahun 1431 Hijriah sebagai momentum untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara yang safety and at home (betah dan teduh) untuk dihuni oleh generasi sekarang dan anak cucu kita kelak.***

Penulis adalah Pemerhati Masalah Lingkungan dan Sosial Kemasyarakatan.

 
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lainnya :
Perspektif Historis Peringatan 1 Muharram
Makna Hijrah Bagi Lingkungan
Perkawinan pada Masyarakat Betawi
Sumenep di bawah Pemerintahan Panembahan Notokusumo I (1762 – 1811)
Hak-hak Para Tenaga Guru
Akomodasi VOC
Tragedi Prisoner of War (P.O.W) di Banyumas
PSSI, Tendangan Bola dan Politik Kebangsaan
Dari Politik Etis untuk Para Petani Pribumi
 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
Komentar 0
 

 
Peristiwa Kecil dan Nasionalisme
17-01-2010

 

Buku ini menghimpun potongan-potongan peristiwa kecil yang menarik dan remeh-temeh, persinggungan pribumi dengan teknologi-teknologi baru yang mengakibatkan perubahan sosial ketika kolonialisme tengah berlangsung pada tahun 1800-an dan 1900an  >>>

Berpikir Historis Ala Wineburg
08-01-2010

BUKU ini mengajak kita untuk berpikir kritis terhadap sejarah dan memberikan inspirasi untuk melakukan inovasi dalam pembelajaran sejarah. >>>

Menelusuri Jejak Leluhur Timor
26-12-2009

Buku ini menjadi referensi yang cukup penting karena sumber cetak tentang sejarah Timor masih sangat langka.

Batu, Seragam, dan Kekuasaan
22-12-2009

Tema-tema sketsa masa Demokrasi Terpimpin tidak pernah dipasang di Monas. Suharto punya kebijakan sendiri. >>>

Cari
   
Peristiwa yang terjadi pada tanggal kelahiranmu
MATERI
 
GURU
Nelly_c@n
Tanya
--------------------------------------------
PRAS man 1
hilangkan kesan belajar sejarah tidak menarik!!
--------------------------------------------
astrini novi puspita
gagasan belajar sejarah BARU!
--------------------------------------------
erly
Tanya Pak
--------------------------------------------
 
 

 
Komentar
Berpikir Historis Ala Wineburg
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
SMA 5 Yogya, Pak Edi: “Setiap kelas yang saya ajar, saya tantang?”
I. Kedatangan Orang-orang Eropa di Indonesia
Dialog
Barbara Hatley: “Setiap 4 Malam dalam Seminggu Saya Selalu Nonton Ketoprak”
Jennifer Lindsay: “Saya tidak lulus mata kuliah Sejarah”
“Baskoro T Wardaya: Kalau Pembelajaran Sejarah Hilang, Hilang pula Indonesia”
Anhar Gonggong: “Faktanya, Pemerintah Lebih Mendengarkan Taufiq Ismail Ketimbang Sejarawan”
Tips
SMA IT Bina Umat, Ibu Ary:‘Ketika di Presure dengan UNAS Saya Membikin Bersemangat dengan Sejarah
SMA 5 Yogya, Pak Edi: “Setiap kelas yang saya ajar, saya tantang?”
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
IHWAL PENGELOLA ALAMAT KIRIM TULISAN
Copyright @ 2009 BelajarSejarah.com, all rights reserved