“Setiap kelas yang saya ajar, saya tantang?”, begitu tutur Pak Edi Guru Sejarah SMA N 5 Yogyakarta. Pak Edi kemudian berujar: “Kalau kamu berani saya beri nilai sempurna”. Eit, jangan buru-buru menyimpulkan, tantangan itu adalah “tampil dalam dua event kegiatan pada malam kegiatan peringgatan “17 Agustus” atau “Sumpah Pemuda” untuk tampil sebagai narasumber atau sebagai orang yang bisa menceritakan sejarah pejuangan bangsa Indonesia.” Menurut Pak Edi, ini adalah salah satu upaya untuk “memupuk satu nusa satu bangsa dan menjujung tinggi bahasa persatuan. Meletakan bahasa Indonesia sebagai bahasa perekat karena di otonomi daerah ini rasa kedaerahannya tinggi”, ujar Pak Edi.
Nah, pada kesempatan yang sama saya bertemu Sakinah salah satu siswa Pak SMA N 5 yang tertarik menjawab tantanggan Pak Edi. Sakinah membagikan cerita kepada saya: “Pak Edi memberi tantangan itu sudah lama, lalu aku mikir-mikir, ada waktu semingu lebih. Lalu aku cari-cari tahu tentang informasi acara “Sumpah Pemuda”di kampungku Kauman, kebetulan ketua panitiannya temanku satu organisasi di kampung, lalu aku minta waktu sedikit 10 menit.”
Gadis berjilbab ini kemudian menjelaskan apa yang disampaikan dalam acara “Sumpah Pemuda”: “saya menyampaikan poin-poin tentang makna “Sumpah Pemuda” yaitu satu wadah persatuan yang menyatukan dari sabang sampai merauke dengan ragam budaya.” Ketika ditanya tentang respon audien Sakinah menandaskan: “Sebetulnya mereka agak bosen soalnya anak-anak kecil yang nonton tapi ketika aku responsif ke penonton dan meneriakan “Merdeka””Merdeka” mereka langsung tertarik.”
Sakinah sendiri mengaku tidak terlalu suka pembelajaran sejarah. ”Sejarah kan masa lalu kenapa harus dipelajari”, ujarnya. Tapi ia kemudian jatuh hati karena gurunya memberi materi yang menarik, “Sekarang aku agak suka karena materi yang diberikan Pak Edi menarik seperti Pemberontakan G 30 S PKI bikini aku tertarik”.
Sejatinya guru adalah pemegang posisi strategis dalam pembelajaran. Posisi strategis yang harus disertai kompetensi memadai, yaitu pengetahuan yang luas tentang kesejarahan dan juga startegi dalam pembelajaran. Kalau guru memiliki pengetahuan yang luas dan startegi yang sesuai dalam pembelajar maka siswapun akan tertarik.
“Hanya 1 siswa yang ikut yang menjawab positif tantangan saya, padahal sudah dua tahun terakhir ini” kata Pak Edi sambil tertawa. Pak Edi memang salah satu guru sejarah yang cukup memcintai profesinya. Sekira empat tahun yang lalu, tepatnya 20 Mei 2005 ia memprakasai berdirinya HP2S “Himpunan Relajar Pemerhati Sejarah”. Belpagai kegiatan telah dilakukan HP2S walaupun kata Pak Edi himpunan ini ‘mati segan hidup tak mau”. |