'Ketika anak kelas XI dipresur untuk UNAS, saya mengisi pembelajaran sejarah dengan permainan di lapangan yang bikin anak bersemangat. Permainanya begini dalam satu kelas saya bagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok menyiapkan pelepah pisang (sekolah kami terletak di desa jadi banyak terdapat pelepah pisang) dan 1 batang pisang yang lebih panjang untuk 1 kelas. Selain itu masing-masing kelompok harus membikin minimal 30-40 bendera (boleh dari kertas bekas) betuliskan kata yang sudah saya pilih, misalnya ’GAPI’, ’Indonesia Mengunggat’, ’Sukarno’ dan lainnya. Pelepah pisang itu digunakan untuk menancapkan bendera. Pada sesi pertama: Setiap regu berbaris memanjang ke belakang, barisan pertama harus mendengarkan pertanyaan yang saya ajukan dan berlari mengambil jawaban yang ’benar’ yang telah ditulis dalam bendera. Begitu baris ke dua dan seterusnya. Sesi kedua: pertanyaan rebutan, pelepah pisang hanya satu. Barisan pertama dari masing-masing barisan mendengarkan pertanyaan saya sampai selesai kemudian berebut mengambil jawaban yang ’benar’ di bendera yang telah ditulis jawaban yang benar. Nah bagi yang cepat dan mengambil bendera yang benar poinnya akan tinggi.Permaianan ini membuat siswa kian bersemangat dalam pembelajaran sejarah’, demikian tips yang dituturkan Ary Puspita, guru sejarah SMA IT Bina Umat Yogyakarta. Salah satu upaya untuk membuat pembelajaran sejarah menjadi menarik dan menyenangkan.
SMA IT Bina Umat merupakan sekolah Islam terpadu dengan sistem bording (asrama). SMA yang terletak di Pedesaan Moyudan ini lebih menekankan pada kegiatan keagamaan (tahfidz) selain pembelajaran umum. Pembelajaran sejarah di sekolah ini pun dibagi dalam dua konsentrasi, yaitu sejarah umum dan sejarah Islam (berisi tentang Sejarah Peradaban Islam). Bertanggung jawab untuk pembelajaran sejarah umum adalah Ibu Ary.
Menurutnya, menarik atau tidaknya pembelajaran sejarah tergantung pada andil dari guru sejarah sendiri. Guru bisa melakukan hal-hal sederhana misalnya, membawakan novel sejarah seperti ’Rahasia Mede’, ’Ronggeng Dukuh Paruk’, ’Lingkar Tanah Lingkar Air’ dan lainnya atau dari cerita film-film yang terinspirasi dari peristiwa sejarah sebagai bahan bercerita. Ia menerapkan hal ini dan menurutnya siswa menjadi lebih berantusias. Ibu Ary, juga sering menceritakan tentang kehidupan tokoh-tokoh sejarah, untuk memberi inspirasi dan semangat siswa. Untuk lebih memotifasi siswanya ia juga acapkali mengikutkan dalam lomba-lomba misalnya, cerdas cermat sejarah, penulisan artikel sejarah atau lomba bercerita sejarah (nah untuk lomba bercerita ini siswa SMA IT Bina Umat mendapat juara 3 untuk tahun ini) . Meskipun mereka tidak selalu menang dalam perlombaan , Ibu Ary memberikan bingkisan sebagai pengharagaan dan dukungan moril atas keikutsertaan mereka, dan ternyata metode ini cukup berhasil untuk memotifasi siswa.
Diakui oleh Ibu Ary, untuk membangkitkan nasionalisme pada siswanya bukanlah hal yang mudah, apalagi mereka berlatar belakang dari keluarga Islam militan. Untuk itu upaya yang dilakukannya adalah dengan menanamkan nasionalisme lewat tokoh-tokoh Islam, bagaimana mereka memberi kontribusi dalam pembentukan Indonesia. Tak ingin pembelajaran sejarah menjadi monoton, Ibu guru yang dikenal energik ini terus berupaya mencoba pelbagai metode, mengembangkan kurikulum dengan berita kekinian, tapi menurutnya yang paling penting bagi guru sejarah adalah selalu membaca dan membaca. (Redaksi) |