Oleh: Rhoma Dwi Aria Yuliantri

Barbara Hatley adalah Guru Besar Bahasa Indonesia dan sejak tahun 2000 dan merupakan Kepala Sekolah Bahasa dan Kajian Asia di UTAS 2000-2006. Dia memiliki gelar MA dari Yale, PhD dari Sydney University dan mengajar di Universitas Monash sebelumnya. Barbara adalah periset seni pertunjukan Indonesia, sastra modern dan studi gender. Tesis PhD-nya terfokus pada teater populer sebagai ekspresi sosial dan budaya lokal identitas: kemudian ARC menganalisis penelitian didanai cara teater modern bahasa Indonesia invoked budaya "tradisi" untuk menyampaikan penolakan sosial dan politik. Barbara saat ini sedang menulis buku tentang teater dan identitas di Jawa Tengah yang menarik pada penelitian awal ini sambil bergerak ke kompleks, terfragmentasi globalisasi sekarang. Kepentingan utama lainnya adalah perwakilan jender di teater dan sastra, dan perempuan penulis dan penyanyi - termasuk baru-baru ini ikon musik pop sensasional, Inul. Buku Barbara Performances Jawa pada Tahap Bahasa Indonesia diterbitkan oleh NUS Press pada tahun 2008. Barbara akan melanjutkan kegiatan penelitian setelah pensiun pada akhir 2008.
Dari Mana Belajar sejarah, lewat sekolah?
Saya sekolah di Oriental Studies sekarang disebut Asia Studies harus milih bahasa Jepang, Cina atau Indonesia saya melilih bahasa Indonesia. Karena lebih gampang tidak ada huruf yang aneh-aneh. Ada bahasa Indonesia, Bahasa Arab. Saya belajar bahasa Arab tetapi saya tidak inggat apa-apa kecuali Alif. Saya belajar sejarah sambil jalan (otodidak).
Buku yang ditulis Javanese performances on an Indonesia Stage, berisi tentang apa?
Seni tradisi selama 30 tahun. Riwayat perkembangan ketoprak, kenapa ketoprak? Karena erat hubungan dengan kampong, hubungan pementasan desa hubungannya dengan bangsawan, sejarah dari pementasan desa yang dipentaskan oleh bansawan. Kalau sudah orde baru sudah kontemporer. Saya meneliti yang kotemporer karena saya mengikuti perkembangan. Saya tidak tertarik dengan sejarah, tetapi kalau mau mengerti keadaan sekarang harus tahu latar belakang (sejarah). Kalau sejarah meneliti data di perpustakaan kurang hidup, tapi ternyata ada sejarah lisan (itu yang paling cocok dengan saya). Tetapi harus ada imbangan antara data wawancara dan arsip. Sejarah sangat penting walaupun secara pribadi saya kurang tertarik. Saya sebetulnya ingin tahu bagaimana seni pertunjukan sekarang? Tapi tidak bisa dipotong, kalau mau tahu masa sekarang harus tahu asal usul masa lalu. Saya rasa sejarah selalu penting dalam hal ini.
Untuk menulis bukankah metode wawancara lebih sulit dari pada menggunakan riset dokumen?
Iya, itu tergantung . Kalau ingin tahu suatu kejadian pada tahun sekalian harus pergi ke perpustaakaan. Kalau mau tahu suasana dan pandangan hidup harus ketemu orang (wawancara) untuk studi yang lebih mendalam atau tujuan yang lain. Saya suka bergaul dengan orang, saya suka wawancara karena ada sesutu yang istimewa. Dan memberi kesempatan pada orang yang sudah mengalami sesuatu yang sudah lewat untuk menceritakan lagi, memberi semacam semangat dan kesenangan kepada orang yang yang diinterview.
Kalau buku ini pakai sumber wawancara?
Saya banyak bergaul dengan pemain ketoprak dari SAPTA MANGGALA. Saya wawancara tapi pada waktu itu saya belum punya mesin rekam. Penelitian itu saya lakukan pada tahun ..(tidak disebutkan) saya tidak sampai merekam. Saya merekam lakonnya tapi kalau orang saya hanya bikin catatan saja.
Berapa orang yang diwawancarai?
Tidak bisa dihitung.. Tapi saya tidak memakai secara utuh, mengadakan interview. Ini 9sambil menunjuk foto) ada di Samirono ada pemain bernama Sapto (UNY). Saya liat pada waktu bermain 17 Agustus-an. Ada acara 17 Agustusan yang sangat mengesankan saya judulnya ”Sama Rata Sama Rasa” semua penontonnya duduk di bawah.
Berapa kali nonton Ketoprak untuk menyusun buku ini?
Itu yang tidak bisa dihitung, karena waku mengadakan penelitian untuk penelitian S3 tahu 1977-1978 saya melakukan penelitian ketoprak. Tidak setiap malam saya menonton ketoprak tapi pada waktu itu saya setiap 4 malam dalam seminggu saya selalu nonton ketoprak selama 1,5 tahun. Penelitiann saya lakukan tahun 1977-1978, kembali ke Indonesia pada tahun 1980-an dan sedikit kebelakang sampai ke 90-an masih ada ketoprak sejak itu jarang.
Pada tahun itu nonton terus?
Iya nonton terus.
Lakon apa yang disukai?
Kalau ketoprak lakonnya tentang sejarah terus. Lakon yang saya sukai Ki Ageng Mangir, cukup mengesankan sebagai lakon antara kraton dan rakyat, tapi itu untuk lakon serius. Aryo Penangsang sangat karismatik. Lakon Ajasmara saya juga suka.
Total menulis buku ini berapa tahun?
Saya tidak intens, praktisnya 2004 saya ada cuti (mengajar) satu tahun, tapi sebelumnya ada riset panjang dari desertasi S3.
Kenapa milih tema Ketoprak?
Saya mencari sesuatu bentuk kesenian atau sastra yang mencerminkan gaya hidup dari orang Indonesia. Dan saya mendapat kesenangan dalam membaca sastra Inggris, tapi dengan sastra Indonesia rasanya asing atau mungkin guru saya tidak begitu pandai menyajikan saya tidak merasa kepuasan dengan membaca Idrus, Pram, tetapi waktu saya menonton ketoprak dan ludruk...nah ini dia yang membuat orang benar-benar merasa terwakili.
Ketoprak dulu dan sekarang apa bedanya sih?
Sekarang isinya seperti tentang penyelewangan keluarga tetapi masih menggunakan ketoprak. |