
Cerita dari Kampungku: Catatan Kecil Sejarah Indonesia
Oleh: Theresia Tri Susanti (SMA N 5 Yogyakarta, XII IPA 4)
Desaku terletak kurang lebih sekitar 12 km dari pusat kota Jogja. Lebih lengkapnya lagi, desaku beralamatkan di Jetis, Wedomarani, Ngemplak, Sleman Yogyakarta. Di kawasan desaku, sekitar 1 km terdapat sebuah candi yang orang mungkin tidak banyak tahu. Walau terletak di kawasan yang padat penduduknya keberadaan candi ini seolah-olah masih terkucil.
Candi Gebang, candi mungil ini memiliki corak Hindu, bahkan ditenggarai lebih tua dari Candi Kalasan, candi Budha tertua di Jogja.
Menuju ke sini, seakan-akan memberikan kesan kontras. Candi yang terletak di Desa Gebang, kelurahan Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, yang merupakan kawasan pemukiman padat kondisinya cukup memprihatinkan.
Mengikuti papan petunjuk ke arah candi yang mulai usang, membuat kita seakan bertanya, apa iya candi terletak di antara pemukiman perumahan? Benar saja, candi ini rupanya memang terletak di ”pinggir” kawasan perumahan itu. Terletak di tengah areal persawahan, jalan menuju ke candi ini pun bisa dibilang jalan tanah setapak.
Walau lokasinya ’terpencil’. Namun kondisi kompleks candi ini sangat terawat. Berpagarkan kawat berduri mengelilingi makin menguatkan kesan ”terpencil” tersebut.
Candi Gebang pertama kali ditemukan oleh penduduk setempat pada bulan November 1936, berupa sebuah Arca Ganesha. Atas dasar laporan tersebut maka dinas Purbakala mengadakan penelitian, yang ternyata Arca Ganesha tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan sebuah bagian dari sebuah bangunan. Untuk menindaklanjuti hasil penelitian ini, maka diadakan penggalian dis ekitar temuan Arca Ganesha tersebut. Hasil yang dicapai adalah temuan berupa reruntuhan bangunan yang terdiri dari atap candi, sebagian kecil bagian tubuh dan sebagaian kecil kaki yang masih utuh.
Dari hasil penggalian, kemusian diadakan susunan percobaan sehingga diperoleh bentuk konstruksi bengunan yang sebenarnya. Dengan adanya gambaran dari hasil susunan percobaan ini, maka penyusunan kembali dapat dilaksanakan meskipun bagian tubuh bangunan banyak menggunakan batu pengganti. Pemugaran Candi Gebang dilaksanakan pada tahun 1937 sampai tahun 1939 yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Van Romondt.
Bangunan Candi Gebang berdenah bujur sangkar dengan ukuran 5,25x5,25 m dan tinggi 7,75 m. Bagian kaki mempunyai proporsi yang tinggi dan tanpa relief/polos. Candi ini tidak mempunyai tangga masuk, atau kemungkinan tangga masuknya terbuat dari kayu atau bahan lain yang mudah rusak sehingga sampai sekarang tidak ditemukan kembali. Hal ini merupakan keistemewaan candi ini, dan keistimewaan yang lain adalah pada titik pusat candi bertepatan dengan titik pusat halaman candi.
Di dalam tubuh candi terdapat satu bilik dengan arah hadap ke timur yang didalamnya terdapat Yoni.Di kanan kiri pintu masuk terdapat relung dengan Arca Nandiswara, sedangkan relung yang berisi Mahakala arcanya tidak ada (Catatan: Ketika YogYes.com berkunjung ke Candi Gebang pada bulan Februari 2004, Arca Nandiswara sudah tidak ada). Relung di sisi utara dan selatan dalam keadaan kosong. Di sebelah barat terdapat relung yang diiisi dengan Arca Ganesha yang duduk di atas sebuah Yoni dengan cerat yang mengahdao ke utara. Sedangkan pada bagian puncak terdapat Lingga yang berada di atas bantalan seroja. Bentuk Lingga hanya bagian atas, yaitu berupa bentuk silinder. Di dalam atap juga terdapat sebuah ruangan kecil yang berbentuk rongga dia tas bilik candi sebenarnya, Di halaman ditemukan Lingga semu (patok) yang berada di kempat sudutnya.
Latar belakang sejarah berdirinya Candi gebang belum diketahui secara pasti. Akan tetapi yang jelas Candi Gebang bersifat hinduistis. Hal ini dapat diketahui dengan adanya Lingga, Yoni, dan Arca Ganesha. Di samping itu, berdasarkan atas bentuk kaki candi yang mempunyai proposi tinggi ini, menunjukkan bahwa Candi Gebang berasal dari periode tua (± 730-800 M). Sedangkan menurut Van Romondt, Candi Gebang berdiri pada masa awal ”Jawa Tengah”.
Dari ukiran-ukiran arca pendeta Hindu ini, bisa jadi candi ini sering digunakan oleh para pendeta untuk menenangkan diri dan bertapa. Hal ini disukung dengan suasana nyaman, sejuk, dan sri karena dikelilingi pohon-pohon yang rindang. Saya bahkan menemukan beberapa ekor kupu-kupu yang berterbangan di sekitar candi ini seakan memberi kesan damai.
Berkunjung ke kompleks candi ini bisa menjadi alternatif wisata dan edukasi. Susana asri dan menenangkan ini bisa menjadi obat gundah gulana, seperti apa yang saya rasakan ketika berkunjung ke candi ini. Apalagi kita tidak perlu membayar mahal masuk ke candi, jaraknya pun tak jauh dari rumahku. Sumber foto: http://cjoeniani.files.wordpress.com/2007/11/gebang1.jpg |