Cerita dari Kampungku: Catatan Kecil Sejarah Indonesia
Oleh: Tsabbit Nur Fadli (SMA N 10 Yogyakarta, XE ) 
Kauman adalah nama sebuah kampung di Kota Madya Yogyakarta. Kampung ini mempunyai peran penting dalam sejarah lahirnya kesultanan Yogyakarta. Lahirnya kampung Kauman dimulai dengan adanya penempatan abdi dalem Pamethakan yang mempunyai tugas mengusrusi masalah keagamaan khususnya masalah kemasjidan.
Nama kauaman berasal dari pa-kaum-an, Pa=tempat, kaum dari kata Qoimuddin (penegak agama islam0, jadi kauman adalah tempat para penegak agama/para ulama. Setelah Masjid Gedhe didirikan maka sangat diperlukan masyarakat yang memelihara, mengelola, memakmurkan masjid, untuk itu Sri Sultan Hamengku Buwona I yang sangat aktif beribadah meletakkan para ulama pilihan dari pelbagai daerah untuk ditugaskan dalam organisasi keagamaan/kemasjidan dengan pembagian tugas yang telah tertata rapi.
Para ulama yang ditempatan disekitar Masjid Gedhe ini kemudian membentuk komunitas santri dengan perkawinan ’indogami kampung”. Dalam perkembangan lebih lanjut terjadilah komunitas santri dengan ikatan keagamaan dan kekerabatan. Dengan demikian solidaritas komunitas ini sangat kuat. Tradisi kesantrian seperti dalam pendidikan, pergaulan, serta dalam kehidupan bermasyarakat dengan masjid sebagai pusatnya memberikan warna, nuansa, dan ciri khas tersendiri begi kauman dibandingkan dengan kampung-kampung lainnya di kota Yogyakarta pada waktu itu.
Kehidupan masyarakat kauaman sejak tahun 1900 sampai dengan tahun 1930 mempunyai kesetaraan ekonomi. Mata pencaharian bersumber pada jabatan sebagai abdi dalem keraton Yogyakarta dan juga mempunyai penghasilan tambahan dari kerajinan batik. Pendidikan pokok masyarakat kauman awalnya di pondok pesantren. Pada tahun 1912 sampai 1913 pendidikan yang mulanya berorientasi ke pondok pesantren beralih ke pendidikan sekolah umum dengan tetap memasukkan agama Islam sebagai kurikulum.
Sumber foto:http://hidayat-gustiansyah.blogspot.com
|