BERANDA BERITA BUKU DIALOG ESAI FOTO FILM GAME GURU HAYAT
  KARYA SISWA TOKOH TIPS WISATA BUKU TAMU  
Permainan Tradisional di Desaku Wirokerten
17-12-2009

Saya tinggal di Perumahan Wirokerten Indah, Desa Wirokerten. Desa Wirokerten terletak di sebelah timur kawasan Kotagede. Desa ini merupakan daerah perbatasan antara Bantul dan Yogyakarta. Mungkin hal budaya yang terdapat di Desa Wirokerten terpengaruh juga oleh Kotagede. Jadi bisa dibilang budayanya juga mirip.

Di sini saya ingin menceritakan mengenai budaya di daerah Kotagede dan Desa Wirokerten serta daerah sekitarnya. Masyarakat di Kotagede masih banyak yang percaya pada mitos dan hal gaib. Salah satunya yaitu masjid Mataram. Orang-orang sekitar sering bercerita bahwa tempat itu angker karena ada yang pernah melihat orang sholat tetapi ketika dilihat lagi menghilang. Mereka juga percaya, jika orang mandi di kolam peninggalan kerajaan Mataram maka dia akan awet muda. Pondok gamelan di sekitar rumah saya sendiri, tepatnya di daerah Purbayan, sering mengeluarkan bunyi pada tengah malam.

Permainan di desaku atau perumahanku tidak jauh berbeda dengan permainan di desa lain. Dalam permainan engklek, misalnya, kita membuat atau menggambar garis membentuk kotak. Urutan yang digambar letaknya sesuai keinginan kita. Masing-masing anak pegang pincuk (seperti dari eternit yang dibelah kecil-kecil) tapi saya agak lupa namanya, “gacuk” atau apa gitu hehehe.... Gacuk dilempar ke kotak step by step, lalu kita langkah kaki kita dengan melompat satu kaki step by step tapi harus melewati “gacuk” yang telah kita taruh (kotak yang ada “gacuk”-nya tidak boleh diinjak). Keluar garis atau menginjak pincuk artinya kita “mati” dan harus bergiliran dengan teman lainnya. Setelah selesai kita hadap belakang cari gambar, lempar pincuk, kalau nyampe puncak berarti kita yang menang (begitulah kira-kira).

Ada juga dakon yang memakai kecik, dimainkan dua orang, saling bergantian. Juga ada bola bekel yang bisa dimainkan banyak orang berganti.

Permainan tradisional di tempatku yang banyak menguras tenaga yaitu “jek-jekan”, “delikan”, dan “gobak sodor” karena semuanya harus berlari sewaktu-waktu. Dalam jek-jekan, para peserta saling jaga kubu kayak orang mau tawuran, ngumpan satu dari masing-masing kubu untuk men-jek kubu lain, yang kalah ketangkep gak bisa ngelanjutin lagi. Nah, kubu yang jaga harus siap diserang.

Delikan ada satu orang yang jaga, mata ditutup lalu menghitung (biasanya nyampe seratus), trus yang lain sembunyi. Yang sembunyi berusaha untuk tak terlihat. Kalo yang jaga lengah, kita “menjek” pos penjagaannya dengan bilang “jekplong”. Nah, kalau satu orang berhasil maka yang sembunyi menang, yang jaga kalah, maka ia jaga lagi.

Gobak sodor juga menggunakan gambar garis dan kotak ada 3 line, depan, tengah, belakang. Ada dua kubu masing-masing 3 orang (untuk yang tidak jaga bisa lebih). Yang jaga masing-masing menempati pos depan, tengah, belakang. Masing-masing orang yang jaga hanya bisa bergerak ke kiri dan ke kanan. Para peserta harus bisa melewati penjagaan ini baru bisa menang.

Lalu juga ada permainan “dingklik oglak aglik” yaitu menyatukan 4 kaki dari 4 orang pemain, lalu melompat muter dengan nyanyi “dingklik oglak aglik” nyampe ada yang gak kuat.

Trus ular naga.... dua orang pemain yang jaga sebagai gerbang. Sebelum main, 2 orang yang jaga sepakat untuk memilih hal yang ditawarkan pada pemain. Misal: buah-buahan. Si A memilih jeruk si B memilih apel. Nah, lalu mulai permainan. Para peserta lainnya berdiri berurutan sambil meelwati gerbang tangan 2 pemain yang jaga. 2 pemain jaga sambil menyanyi-nyanyi “Ular naga panjangnya bukan kepalang, berjalan, berjalan, selalu riang kembali. Umpan yang lezat. Itulah dia yang dicari. Ini dianya yang terbelakang”. Nah, peserta yang tertangkap ditanyai milih apa jangan sampai terdengar peserta lain. Ternyata ia milih apel lalu ia berdiri di belakang si B nah dilakukan sampai peserta habis. Yang “anak di belakangnya paling banyak” sebagai yang diminta, yang sedikit meminta tapi saling ambil-ambilan. Si A harus menjaga anak-anak di belakangnya, si B demikian pula yang tersentuh salah satunya harus pindah posisi dari belakang si B pindah ke belakang si A begitu sebaliknya.

That’s all.

Maharani Inka H., SMA 5 Yogkayarta, XII IA 4/19, Desa Wirokerten



Catatan editor: seluruh tulisan ini pada mulanya berupa satu paragraf. Editor telah menyuntingnya tanpa mengubah isi. Tulisan aslinya adalah sebagai berikut:

 

Aku dan Desaku

Desa Wirokerten terletak di sebelah timur kawasan Kotagede. Merupakan daerah perbatasan antara Bantul dan Yogyakartya. Saya tinggal di Perumahan Wirokerten Indah, desa Wirokerten. Mungkin hal budaya yang terdapat di Desa Wirokerten terinfluence juga dari Kotagede. Jadi bisa dibilang budayanya juga mirip. Di sini saya ingin menceritakan mengenai budaya di daerah Kotagede dan desa Wirokerten serta daerah sekitar. Masyarakat di Kotagede masih banyak yang percaya pada mitos dan hal gaib. Salah satunya yaitu masjid Mataram. Orang-orang sekitar seringt bercerita bahwa tempat itu angker karena ada yang pernah melihat orang sholat tetapi ketika dilihat lagi menghilang. Jika mandi di kolam peninggalan kerajaan Mataram akan awet muda. Dan juga pondok gamelan di sekitar rumah saya tepatnya di daerah Purbayan yang sering mengeluarkan bunyi pada tengah malam. Permainan di desaku atau perumahanku tidak jauh berbeda dengan permainan di desa lain. Permainan engklek misalnya kita membuat atau menggambar garis membentuk kotak yang digambar urutan letaknya sesuai keinginan kita masing-masing anak pegang pincuk (seperti dari eternit yang dibelah kecil-kecil) tapi saya agak lupa namanya “gacuk” atau apa gitu hehehe... dilempar ke kotak step by step lalu kita langkah kaki kita dengan melompat satu kaki step by step tapi harus melewati “gacuk” yang telah kita taruh (kotak yang ada “gacuk”-nya tidak boleh diinjak), keluar garis atau menginjak pincuk artinya kita “mati” dan harus bergiliran dengan teman lainnya. Setelah selesai kita hadap belakang cari gambar, lempar pincuk, kalau nyampe puncak berarti kita yang menang (begitulah kira-kira). Ada dakon yang memakai kecik, dimainkan dua orang, saling bergantian. Bola bekel yang bisa dimainkan banyak orang berganti. Permainan tradisional di tempatku yang banyak menguras tenaga yaitu “jek-jekan”, “delikan”, “gobak sodor” karena semuanya harus berlari sewaktu-waktu. Jek-jekan saling jaga kubu kayak orang mau tawuran, ngumpan satu dari masing-masing kubu untuk menjek kubu lain, yang kalah ketangkep gak bisa ngelanjutin lagi. Nah kubu yang jaga harus siap diserang. Delikan ada satu orang yang jaga, mata ditutup lalu menghitung (biasanya nyampe seratus) trus yang lain sembunyi, yang sembunyi berusaha untuk tak terlihat. Kalo yang jaga lengah, kita “menjek” pos penjagaannya dengan bilang “jekplong”. Nah kalau satu orang berhasil maka yang sembunyi menang, yang jaga kalah, maka ia jaga lagi. Gobak sodor juga menggunakan gambar garis dan kotak ada 3 line, depan, tengah, belakang. Ada dua kubu masing-masing 3 orang (untuk yang tidak jaga bisa lebih). Yang jaga masing-masing menempati pos depan, tengah, belakang. Masing-masing orang yang jaga hanya bisa bergerak ke kiri dan ke kanan. Para peserta harus bisa melewati penjagaan ini baru bisa menang. Lalu juga ada permainan “dingklikoglakaglik” yaitu menyatukan 4 kaki dari 4 orang pemain. Lalu melompat muter dengan nyanyi dingklik oglak aglik nyampe ada yang gak kuat. Trus ular nagar... dua orang pemain yang jaga sebagai gerbang. Sebelum main 2 orang yang jaga sepakat untuk memilih hal yang ditawarkan pada pemain. Misal: buah-buahan. Si A memilih jeruk si B memilih apel. Nah lalu mulai permainan. Para peserta lainnya berdiri berurutan sambil meelwati gerbang tangan 2 pemain yang jaga. 2 pemain jaga sambil menyanyi-nyanyi “Ular naga panjangnya bukan kepalang, berjalan, berjalan, selalu ruang kembali. Umpan yang lezat. Itulah dia yang dicari. Ini dianya yang terbelakang”. Nah peserta yang tertangkap ditanyai milih apa jangan sampai terdengar peserta lain. Ternyata ia milih apel lalu ia berdiri di belakang si B nah dilakukan sampai peserta habis. Yang “anak di belakangnya paling banyak” sebagai yang diminta, yang sedikit meminta tapi saling ambil-ambilan. Si A harus menjaga anak-anak di belakangnya, si B demikian pula yang tersentuh salah satunya harus pindah posisi dari belakang si B pindah ke belakang si A begitu sebaliknya.

That’s all.

 
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lainnya :
Permainan Tradisional di Desaku Wirokerten
Sate Klatak Khas Bantul
Asal Usul Kampung Kauman
Berkunjung ke Desaku, Berkunjung ke Candi Gebang
Kwarasan
Bukittinggi, Jutaan Kenangan yang Tak Tergantikan
Sebuah Nama di Kampungku
Bermain Dakon, Gobak Sodor dan Engklek
 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
Komentar 0
 

 
Peristiwa Kecil dan Nasionalisme
17-01-2010

 

Buku ini menghimpun potongan-potongan peristiwa kecil yang menarik dan remeh-temeh, persinggungan pribumi dengan teknologi-teknologi baru yang mengakibatkan perubahan sosial ketika kolonialisme tengah berlangsung pada tahun 1800-an dan 1900an  >>>

Berpikir Historis Ala Wineburg
08-01-2010

BUKU ini mengajak kita untuk berpikir kritis terhadap sejarah dan memberikan inspirasi untuk melakukan inovasi dalam pembelajaran sejarah. >>>

Menelusuri Jejak Leluhur Timor
26-12-2009

Buku ini menjadi referensi yang cukup penting karena sumber cetak tentang sejarah Timor masih sangat langka.

Batu, Seragam, dan Kekuasaan
22-12-2009

Tema-tema sketsa masa Demokrasi Terpimpin tidak pernah dipasang di Monas. Suharto punya kebijakan sendiri. >>>

Cari
   
Peristiwa yang terjadi pada tanggal kelahiranmu
MATERI
 
GURU
Nelly_c@n
Tanya
--------------------------------------------
PRAS man 1
hilangkan kesan belajar sejarah tidak menarik!!
--------------------------------------------
astrini novi puspita
gagasan belajar sejarah BARU!
--------------------------------------------
erly
Tanya Pak
--------------------------------------------
 
 

 
Komentar
Berpikir Historis Ala Wineburg
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
SMA 5 Yogya, Pak Edi: “Setiap kelas yang saya ajar, saya tantang?”
I. Kedatangan Orang-orang Eropa di Indonesia
Dialog
Barbara Hatley: “Setiap 4 Malam dalam Seminggu Saya Selalu Nonton Ketoprak”
Jennifer Lindsay: “Saya tidak lulus mata kuliah Sejarah”
“Baskoro T Wardaya: Kalau Pembelajaran Sejarah Hilang, Hilang pula Indonesia”
Anhar Gonggong: “Faktanya, Pemerintah Lebih Mendengarkan Taufiq Ismail Ketimbang Sejarawan”
Tips
SMA IT Bina Umat, Ibu Ary:‘Ketika di Presure dengan UNAS Saya Membikin Bersemangat dengan Sejarah
SMA 5 Yogya, Pak Edi: “Setiap kelas yang saya ajar, saya tantang?”
SMA 10: Belajar Sejarah Padu dengan Pembelajaran Lainnya
IHWAL PENGELOLA ALAMAT KIRIM TULISAN
Copyright @ 2009 BelajarSejarah.com, all rights reserved